Kemarin saya ditraktir Uchk nonton The Kingdom. Saya sendirian? Tidak, karena ada dwi, echy, ema, gaga, bunda, dan masih banyak rusher lainnya yang kebetulan ada di pasar sewaktu Uchk memberikan ajakannya. Yah, lumayanlah ditraktir nonton. Maunya sih ditambah traktiran makan (halah!) as a birthday boy. Supaya banyak yang doain. Banyak yang bisa membalas kebaikan kamu di hari esok.
Sebenarnya hal ini mungkin kelihatan sederhana saja. Traktir, mentraktir, ditraktir, traktiran, terpaksa mentraktir, dan masih banyak lagi istilah lainnya. Kalian sudah menghitung dalam minggu ini berapa jumlah traktiran yang didapat? Saya sudah 3, semuanya traktiran makan. Apalagi dalam beberapa minggu kedepan. Pasti akan banyak traktiran. Secara panen wisuda di bulan 12. lantas apa yang bermasalah dari traktiran?
Tidak ada yang bermasalah sebenarnya. Cuma saya jadi teringat apa yang dilakukan Ibu untuk minggu ini. Minggu lalu saya ngantar Ibu ke pasar untuk beli kentang. Buat apaan? Buat tetangga yang akan melakukan prosesi 7 hari kematian sanak saudara. Masih di minggu yang sama saya mengantar Ibu lagi. Kali ini untuk giling beras dan giling gula. Untuk apa? Nanti hasilnya kue lapis yang akan diberikan kepada sepupu yang syukuran naik haji. Kemarin saya ngantar Ibu lagi ke pasar. Yang dibeli kali ini telur satu rak, untuk apaan? Masih sama, untuk keluarga yang lagi berduka. Seringkali saya sering bertanya kepada beliau, untuk apa bersusah payah melakukan itu sama. Beliau menjawab,
“itulah yang menjadi bentuk perhatian kita. Disaat kita mampu kita yang membantu, mungkin besok kita yang butuh dibantu.”
Suatu pemahaman yang dalam menurutku. Karena adat keluarga yang masih sangat kental di daerah tempat tinggalku, sehingga setiap prosesi pernikahan, kematian, ataupun acara lainnya. Pastilah semuanya akan turun tangan. Lantas apakah semua tukar menukar itu akan terhitung menjadi utang? Saya bantu kamu sekarang, kamu bantu saya besok.
Itulah yang menjadi persamaan dengan traktiran. Walaupun ada orang yang hidup untuk ditraktir terus, pastilah suatu saat kita menjadi orang yang mentraktir. Karena saya menjadi ingat ajaran Ibu, traktiran itu berarti kita berutang satu kebaikan kepada orang. Tentu saja kebaikan ini bukan yang harus diverbalkan. Tetapi cukuplah dalam hati, ada niat untuk sekedar berbagi rejeki. Jangan karena ingin dilihat royal dan mampu, maka traktiran dijadikan kebiasaan. Bodoh amat.
Lantas apa hubungannya semua? Ada. Karena kita hidup di dalam sistem yang besar. Sistem sosial tempat kita berpijak. Dan kita tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Bersukurlah kalo hari ini masih mampu untuk memberi atau mentraktir, berarti kita masih memiliki rejeki atau sesuatu yang bisa dibagi. kalo hari ini kita diberi atau ditraktir, anggaplah kita berutang satu kebaikan. Satu utang yang harus kita bayar juga di lain hari. Karena bagaimanapun juga, memberi tetap rasanya lebih enak daripada diberi…


Recent Comments